Description
Di era globalisasi, orang seringkali lebih bangga menggunakan bahasa asing yang dianggapnya lebih prestis dan terkesan intelek. Fenomena yang disebut “krisis bahasa” ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat bawah, namun juga banyak ditemukan pada para pejabat negara. Bahasa Jawa, misalnya, sedikit demi sedikit tergantikan perannya oleh bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang dirasakan lebih menguntungkan, lebih modern, berwibawa, dan intelek.
Padahal sebuah bahasa akan mampu mempertahankan diri dan mengembangkan diri jika masyarakat tuturnya memiliki empat hal. Pertama, kebanggaan terhadap bahasa, Kedua, kesetiaan atau loyalitas terhadap bahasa. Ketiga, pewarisan bahasa dari generasi ke generasi berikutnya melalui pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Keempat, kebijakan pemerintah yang dapat mendukung lestarinya sebuah bahasa. Terakhir, publikasi, yakni melalui buku, majalah, TV, radio, dan media lainnya.







