Description
Buku Mereka yang Tumbuh Bersama Luka: Potret Remaja Saksi Kekerasan dalam Rumah Tangga lahir dari keinginan untuk menghadirkan suara-suara yang selama ini nyaris tak terdengar. Selama ini perhatian masyarakat lebih banyak tertuju kepada korban yang mengalami kekerasan secara langsung. Padahal, ada kelompok lain yang juga menanggung luka mendalam, yaitu anak dan remaja yang menjadi saksi kekerasan dalam rumah tangga. Mereka mungkin tidak menerima pukulan, tetapi mereka menyaksikan rasa takut, kemarahan, tangisan, dan ketidakberdayaan yang perlahan membentuk cara mereka memandang diri sendiri, orang lain, dan kehidupan.
Buku ini berusaha memahami pengalaman hidup remaja secara mendalam. Melalui kisah Joko, Dian, dan Sari—nama-nama samaran yang digunakan untuk menjaga kerahasiaan identitas—pembaca diajak melihat bagaimana pengalaman menyaksikan kekerasan di dalam keluarga memengaruhi konsep diri mereka. Setiap kisah menunjukkan bahwa luka tidak selalu menghadirkan dampak yang sama. Ada yang tumbuh dengan rasa rendah diri, ada yang menyembunyikan amarah di balik sikap keras, ada pula yang mengejar kesempurnaan demi memperoleh penerimaan. Di balik perbedaan itu, terdapat benang merah yang memperlihatkan betapa besar pengaruh lingkungan keluarga terhadap pembentukan identitas seorang remaja.
Namun, buku ini tidak ditulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang membuat pembaca tenggelam dalam kesedihan. Sebaliknya, setiap bab berusaha menunjukkan bahwa di balik luka selalu ada kemungkinan untuk pulih. Karena itu, selain mengisahkan pengalaman para partisipan, buku ini juga mengajak pembaca memahami konsep diri remaja, mengenali faktor-faktor yang dapat memperkuat daya lenting (resiliensi), meluruskan berbagai mitos tentang anak saksi kekerasan, serta menawarkan refleksi dan harapan bagi orang tua, guru, teman sebaya, masyarakat, hingga para pembuat kebijakan.







