Description
Gambaran mendalam sekaligus menyentuh bagaimana komunitas difabel mengakses dan memaknai ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kisah penyandang disabilitas sensorik rungu wicara dan pengalaman komunitas TPQLB SPIDI Tulungagung, buku ini memperlihatkan bahwa cinta kepada al-Qur’an dapat terwujud dalam beragam ekspresi yang inklusif. Tradisi sema’an, pembelajaran “semampunya”, menegaskan bahwa difabel bukan hanya penerima layanan, tetapi pelaku utama yang berperan aktif dalam melestarikan spiritualitas dan nilai-nilai keagamaan.
Pada saat yang sama, buku ini mengangkat isu krusial tentang kekerasan seksual terhadap difabel serta tantangan penegakan hukum yang sering kali tidak berpihak pada korban. Dengan analisis kritis terhadap sikap sebagian ulama, legitimasi teologis tentang martabat difabel, hingga ketimpangan putusan pengadilan di Aceh, penulis menyoroti urgensi fiqh yang lebih inklusif dan responsif. Disajikan dengan gaya yang kuat dan menggugah, buku ini menjadi ajakan bagi pembaca untuk memahami Islam secara lebih manusiawi, sekaligus terlibat dalam upaya mewujudkan perlindungan hukum dan keadilan sosial bagi seluruh kelompok rentan. Buku ini sangat layak dibaca oleh akademisi, pegiat disabilitas, ulama, pendidik, maupun siapa saja yang peduli pada kemanusiaan dan inklusivitas.







